FAKTA ILMIAH IQ VS MINDSET
Sebagai gambaran: jika kita menggunakan norma modern untuk menyekor hasil tes generasi awal abad 20. Maka rata-rata skor IQ orang yang hidup diawal abad 20 adalah 70. Perlu diketahui bahwa dalam norma modern, skor angka 70 adalah ambang batas retardasi mental (penurunan tingkat).
Apakah berarti orang zaman itu memang berinteligensi rendah, bahkan mendekati retardasi mental?
NOTE : Retardasi mental adalah gangguan perkembangan otak yang ditandai dengan nilai IQ di bawah rata-rata orang normal dan kemampuan untuk melakukan keterampilan sehari-hari yang buruk. Retardasi mental juga dikenal dengan nama gangguan intelektual.
Muncul pertanyaan lagi sebagai berikut,
- Mengapa kemampuan kognitif kita mengalami peningkatan dahsyat dalam kurun waktu sekitar satu abad terakhir?
- Apakah karena memang otak kita telah menjadi semakin canggih?
Nah fenomena tersebut diatas itu sering disebut sebagai “Flynn Effect” oleh James Flynn. James Flynn adalah seorang Profesor Emeritus dalam bidang Ilmu Politik di Universitas Otago di Dunedin, Selandia Baru. Beliau dikenal akan publikasi-publikasinya mengenai tren peningkatan hasil tes IQ di seluruh dunia, yang kini dikenal dengan nama efek Flynn. Ia awalnya berasal dari Washington, DC dan mengenyam pendidikan di Universitas Chicago. Beliau pindah ke Selandia Baru pada tahun 1963.
Menurut Flynn, penjelasan tentang fenomena ini bukanlah perubahan pada level fisiologis (otak), karena evolusi biologis sulit terjadi dalam kurun waktu sesingkat. (lihat bagan The Flynn Effect). Penjelasan yang lebih masuk akal adalah semakin canggihnya alat-alat konseptual untuk kita gunakan sebagai kerangka berpikir.

Salah satu ciri zaman modern, kata Flynn, adalah kompleksitas kognitifnya manusia saat ini dibanding jaman dahulu.
Manusia modern dituntut untuk bisa berpikir dengan cara :
- Abstrak
- Memanipulasi simbol
- Mengecek konsistensi logisnya. [Kita dituntut untuk berpikir menggunakan analogi dan berpikir hipotetis misalnya : (“seandainya X benar, maka …”).
- Seabad yang lalu, sebagian besar orang hanya perlu menggunakan pikirannya untuk memanipulasi benda konkret atau dunia empiris.
Untuk menggambarkan perbedaan kemampuan berpikir abstrak-konseptual ini, Flynn bercerita tentang kakeknya, seorang Irlandia yang bermigrasi ke Amerika. Sang kakek, sebagaimana kebanyakan orang kulit putih ketika itu, rasis dan percaya bahwa orang kulit hitam memang bodoh, pantas menjadi budak, tidak boleh sekolah, dll.
Sang Kakek ditanya : “Bagaimana jika kakek terbangun suatu hari sebagai orang kulit hitam? Bagaimana perasaan kakek? Bukankah kakek akan berpikir sebaliknya?”
Sang Kakek menjawab : “Itu pertanyaan paling bodoh yang pernah kudengar! Mana ada orang yang tidur kemudian warna kulitnya berubah?”
Jawaban ini menandakan bahwa berpikir abstrak adalah hal yang asing bagi si kakek. Ia tidak mampu MENGANDAIKAN suatu keadaan yang tidak ada dalam pengalaman empirisnya.
JADI KESIMPULANNYA ADALAH :
Bahwa IQ merupakan efek jangka panjang dari metode pendidikan yang dipakai, artinya IQ bukanlah sesuatu yang sifatnya tetap.
FAKTA dari hasil PENELITIAN R & D SBMS Institute dengan menggunakan metodelogi eksperimental di RUANG PSIKOTERAPI SBMS Clinique dan Bening Klinik Psikologi dengan SUBJEK 1000 orang
DITEMUKAN FAKTA BAHWA PENGARUH MINDSET TERJADI PADA:
- MASA DALAM KANDUNGAN : 5%
- MASA ANAK-ANAK : 75%
- MASA REMAJA : 20%
Demikian sharing panjang saya hari ini. Semoga berkenan dan bermanfaat.
Salam hormat,
M-ONE BENING PSIKOLOGI

Bening Psikologi adalah media informasi, layanan psikologi profesional dan teknologi pikiran untuk kesehatan mental di Indonesia.